Tampilkan postingan dengan label Hormon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hormon. Tampilkan semua postingan

Apa yang Bikin Wanita Gagal Hamil?



Ada tiga penyebab utama: tubal, hormonal, dan struktural. Plus, beberapa disease yang mesti Anda ketahui dari sekarang.

1. Tubal. Ini adalah kondisi di mana satu dari kedua fallopian tube Anda tersumbat. Hal ini biasanya disebabkan oleh endometriosis, penyakit bercak-bercak jaringan endometrium yang tumbuh di luar rahim. Pilihan treatment: vitro fertilisation (IVF) dan artificial insemination (AI).

2. Hormonal. Kalau yang ini, siklus menstruasi tidak teratur dan tak ada sel telur yang dilepaskan. Biasanya terjadi pada wanita yang menderita sindrom ovarium polikistik (dampak dari memiliki BMI di atas 25, diperkirakan ada 8 juta wanita yang menjadi penderita), atau wanita dengan level stres yang sangat tinggi. Biasanya diatasi dengan terapi hormon.

3. Struktural. Biasanya ada problem dengan organ reproduksi Anda, seperti kista di rahim, atau tumor di saluran uterus. Treatment-nya disesuaikan dengan masalah masing-masing.
Baca Apa yang Bikin Wanita Gagal Hamil? Lebih Lengkap >>

3 Keluhan Setelah Melahirkan Akibat Kekurangan Progesteron



Hormon progesteron berperan dalam mengatur siklus menstruasi dan menjaga kehamilan. Kadarnya di dalam tubuh akan turun setelah melahirkan dan sering menyebabkan berbagai keluhan pada wanita, baik secara fisik maupun kejiwaan.

Dalam mengatur siklus menstruasi, progesteron berkombinasi dengan hormon lain yakni esterogen. Hormon esterogen mendominasi komposisi hormonal di awal-awal siklus karena fungsinya membantu pematangan sel telur.

Setelah itu progesteron akan mengambil alih hingga kadarnya mencapai puncak saat sel telur siap dibuahi, lalu cenderung stabil hingga beberapa saat menjelang menstruasi. Jika tidak terjadi pembuahan, kadarnya akan turun secara tiba-tiba dan diikuti oleh luruhnya dinding rahim.

Namun jika terjadi pembuahan, kadar progesteron akan terus terjaga selama kurang lebih 39-40 pekan untuk memberikan kondisi yang nyaman bagi perkembangan janin. Kadarnya kembali turun setelah bayi lahir, namun kadang produksinya akan terganggu selama beberapa pekan sesudahnya.

Dikutip dari Livestrong, Selasa (7/12/2010), berikut ini gejala-gejala yang muncul karena terganggunya produksi hormon progesteron setelah melahirkan.

1. Depresi
Selama hamil, kadar progesteron selalu terjaga karena tubuh terus menerus menghasilkan hormon ini melalui plasenta. Setelah melahirkan, plasenta berhenti memproduksi sehingga kadar progesteron mendadak turun.

Menurut penelitian yang dilakukan NaProTechnology, penurunan kadar progesteron berkaitan dengan terjadinya depresi setelah melahirkan (postpartum depression). Kadang-kadang depresi yang ditandai dengan gejala selalu sedih dan gelisah serta mudah menangis ini bisa berlangsung hingga 6 bulan.

2. Penumpukan cairan
Retensi atau penumpukan cairan sering terjadi setelah melahirkan, sebagai akibat dari berkurangnya kadar progesteron. Biasanya kondisi ini ditandai dengan pembengkakan (edema) terutama di bagian kaki dan tangan.

Hal ini terjadi karena pada siklus normal, progesteron juga berfungsi sebagai diuretik atau peluruh cairan. Oleh progesteron, kelebihan carain yang terdapat di beberapa jaringan tubuh akan dikeluarkan melalui urin.

3. Haid tidak teratur
Dalam siklus yang normal, menstruasi terjadi ketika kadar progesteron mendadak turun sebagai sinyal bagi dinding rahim untuk luruh. Kekurangan progesteron menyebabkan dinding rahim tidak luruh tepat pada waktunya, karena perubahan komposisi hormonal tidak terjadi secara drastis.

Gangguan pada siklus menstruasi merupakan keluhan yang sering dialami para ibu setelah melahirkan. Selain kadar hormon progesteron belum normal, produksi Air Susu Ibu (ASI) juga sering dituding sebagai pemicunya.
Baca 3 Keluhan Setelah Melahirkan Akibat Kekurangan Progesteron Lebih Lengkap >>

Waspadai Hipotiroid Pada Bayi


Gangguan pada hormon tiroid umumnya tidak disadari oleh masyarakat. Tapi jika ibu yang hamil diketahui memiliki gangguan tiroid hormonal, sebaiknya periksakan kadar hormon bayinya saat lahir karena bisa jadi si bayi terkena hipotiroid.

Hipotiroid adalah suatu kondisi yang ditandai oleh produksi hormon tiroid yang rendah. Hormon ini berfungsi mengatru tingkat metabolisme seseorang sehingga merangsang tubuh agar bisa bekerja sesuai fungsinya.

Ibu hamil yang memiliki penyakit tiroid hormonal bisa menyebabkan bayinya mengalami hipotiroid saat dilahirkan. Jika bayi sampai kekurangan hormon tiroid bisa menyebabkan kecacatan.

Jika bayi diketahui tenang, aman dan semalaman tidak menangis maka jangan dibiarkan saja, karena bisa jadi bayi tersebut mengalami hipotiroid terutama jika si ibu memiliki gangguan tiroid.

Untuk itu diperlukan pemeriksaan hormon saat bayi tersebut dilahirkan agar diketahui apakah mengalami gangguan hormon atau tidak. Serta untuk mencegah kekurangan hormon yang belanjut.

Penanganan yang dilakukan jika seseorang mengalami hipotiroid adalah mengonsumsi obat yang bisa membantu meningkatkan jumlah hormon tiroid di dalam tubuhnya. Tapi pada ibu hamil obat ini bisa berpengaruh.

"Obat tiroid yang dikonsumsi oleh ibu hamil tidak bisa disaring, jadi obat ini akan ditransfer ke bayi yang dikandungnya melalui plasenta," ujar dr Suharko Soebardi, SpPD-KEMD dalam acara konferensi pers Tingkatkan Kepedulian Masyarakat Terhadap Kasus Metabolik dan Endokrin untuk Mencegah Komplikasi Kronik yang Diakibatkannya, di Hotel Nikko Jakarta, Rabu (8/6/2011).

dr Suharko menuturkan masalah tiroid mewakili sebagian besar penyakit endokrin atau yang berhubungan dengan hormon. Masalah yang terjadi bisa berhubungan dengan perubahan ukuran kelenjar tiroid atau gangguan hormonal.

"Penyakit tiroid lebih banyak dialami oleh perempuan dibanding laki-laki dan gejalanya seringkali tidak diperhatikan oleh pasien sehingga luput dari diagnosis," ujar dr Suharko yang merupakan staf medik divisi metabolik endokrin Departemen Iilmu Penyakit Dalam FKUI RSCM.
Baca Waspadai Hipotiroid Pada Bayi Lebih Lengkap >>

Bayi Makin Tinggi Setelah Bangun Tidur


Tidak mengherankan bayi membutuhkan waktu tidur yang lebih lama dibandingkan anak-anak dan orang dewasa, karena bayi akan semakin tinggi pada saat bangun tidur.

Ilmuwan akhirnya menemukan kaitan antara tidur dan pertumbuhan harian bayi. Ilmuwan menghubungkan tidur meningkat dan perubahan dalam pola tidur pada bayi dapat meningkatkan panjang tubuhnya.

Hasil penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Sleep ini mengklaim bahwa peningkatan pertumbuhan bayi akan terjadi dalam 48 jam setelah peningkatan waktu tidur.

Dan semakin banyak waktu tidur yang dibutuhkan bayi, maka semakin besar kemungkinan bayi mengalami lonjakan pertumbuhan.

Angka hasil penelitian menunjukkan bahwa probabilitas bayi akan mengalami peningkatan pertumbuhan rata-rata 43 persen untuk setiap waktu tidur tambahan.

"Hasil empiris menunjukkan bahwa lonjakan pertumbuhan tidak hanya terjadi selama tidur, tetapi secara signifikan dipengaruhi oleh tidur. Waktu tidur yang lebih panjang akan sesuai dengan pertumbuhan yang lebih besar dalam panjang tubuh bayi," jelas penulis Dr Michelle Lampl, dari Departemen Antropologi di Emory University di Atlanta, Georgia, seperti dilansir Dailymail, Senin (2/5/2011).

Dr Lampl mengatakan, sekresi hormon pertumbuhan akan meningkat setelah bayi tidur dan selama tahap tidur gelombang lambat.

Peneliti juga mengklaim perubahan pada sinyal hormonal selama tidur bisa merangsang pertumbuhan tulang, yang akan mendukung anekdot 'pertumbuhan yang sakit', yaitu pertumbuhan yang membuat anggota badan sakit sehingga membuat bayi dapat bangun di malam hari.

Dr Lampl mengatakan bahwa dalam beberapa kasus, pertumbuhan mungkin terjadi di bagian lain dari tubuh. Namun, beberapa perubahan tidur terjadi tanpa lonjakan pertumbuhan, dan tidak setiap percepatan pertumbuhan diawali dengan peningkatan waktu tidur.

"Ini membuka pintu lain untuk memahami mengapa kita tidur. Kami sekarang tahu bahwa tidur adalah faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan pada tingkat biologis. Untuk praktik sehari-hari, hasil penelitian ini membantu orangtua untuk memahami perilaku dan pola tidur bayi." jelas Dr Lampl.
Baca Bayi Makin Tinggi Setelah Bangun Tidur Lebih Lengkap >>

ASI untuk Otak, Susu Sapi untuk Otot


Saat ini masih sedikit bayi yang bisa mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan, beberapa bayi justru diberikan susu formula yang terbuat dari susu sapi. Padahal ASI itu untuk otak sedangkan susu sapi untuk otot.

Kandungan dari susu manusia dan susu sapi itu berbeda. Pada susu sapi kadar proteinnya lebih tinggi yaitu 3,4 persen, sedangkan susu manusia hanya 0,9 persen. Kadar laktosa di dalam susu manusia lebih besar yaitu 7 persen sedangkan di dalam susu sapi sebesar 4,8 persen.

"Karena itu ASI untuk otak dan susu formula untuk otot," ujar dr IGAN Pratiwi selaku Ketua Satgas ASI IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dalam acara seminar tentang Peningkatan Pemberian ASI Eksklusif Bagi Bayi dalam Mendukung MDGs di Hotel Manhattan, Jakarta, Selasa (29/3/2011).

Dokter yang akrab disapa Tiwi ini menuturkan laktosa sangat penting dalam proses pembentukan myelin otak. Myelin ini berfungsi untuk mengantarkan rangsangan yang diterima oleh bayi. Saat menyusu rangsangan yang diterima oleh si kecil seperti mencium bau ibunya serta mendengar dan merasakan napas sang ibu.

Sedangkan pada susu sapi kandungan yang paling tingginya adalah protein yang berfungsi membantu pembentukan otot karena sapi memang membutuhkan otot yang kuat seperti untuk bergerak atau membajak sawah.

dr Tiwi menuturkan laktosa yang tinggi pada bayi yang baru lahir kadang bisa menyebabkan diare, tapi kondisi ini merupakan suatu hal yang normal atau fisiologis sehingga ibu tidak perlu menghentikan pemberian ASI.

"Jika diare disebabkan oleh fisiologis, maka berat badannya tidak akan turun. Jadi selama berat badannya tidak berkurang, ibu tidak perlu menghentikan pemberian ASI dan normalnya bayi bisa buang air besar sebanyak 10-15 kali sehari," ungkapnya.

Selain itu AA dan DHA yang terkandung di dalam ASI juga dilengkapi dengan enzim lipase sehingga bisa dicerna oleh tubuh bayi, sedangkan pada susu formula memang ada AA dan DHA tapi tidak ada enzimnya. Hal ini karena enzim lipase baru dibentuk saat bayi berusia 6-9 bulan.

Manfaat lain dari ASI yang tidak didapatkan dari susu formula adalah kandungan kolostrum yang keluar di awal-awal menyusu. Kolostrum yang keluar saat bayi menyusu mengandung 1-3 juta leukosit (sel darah putih) dalam 1 ml ASI.

"Jadi kalau ada yang bening-bening sedikit yang keluar dari payudara jangan diremehkan, karena itu mengandung leukosit yang bisa bermanfaat membunuh bakteri di dalam tubuh bayi," ujar dokter yang berpraktek di RS Buda Jakarta.

Ia juga mengatakan keberhasilan ibu menyusui untuk terus memberikan ASI pada bayinya sangat ditentukan oleh dukungan dari suami, keluarga, petugas kesehatan, masyarakat serta lingkungan kerjanya.

"Menyusui merupakan suatu proses keseimbangan yang melibatkan tiga orang yaitu ibu, bayi dan ayahnya. Karena itu peran ayah sangat berarti dalam hal keberhasilan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan atau sampai 2 tahun," ujar dr Utami Roesli SpA, MBA, IBCLC.

Karena itu dr Utami menuturkan bahwa seorang ayah juga punya power (kekuatan) untuk menyehatkan anaknya dan berperan dalam proses menyusui (breastfeeding father).
Baca ASI untuk Otak, Susu Sapi untuk Otot Lebih Lengkap >>

Ukuran Otak Dipengaruhi Lamanya Masa Kehamilan dan Menyusui


Lahir prematur dan tidak mendapatkan ASI bisa menjadi faktor penghambat pertumbuhan sel-sel otak. Penelitian membuktikan, lamanya masa kehamilan dan menyusu menentukan ukuran otak pada semua spesies mamalia termasuk manusia.

Temuan ini sekaligus menguatkan anjuran banyak kalangan mengenai pentingnya Air Susu Ibu (ASI) eksklusif bagi anak. Semakin lama mendapatkan ASI eksklusif, maka pertumbuhan otaknya akan lebih maksimal sehingga kecerdasannya juga akan meningkat.

Kesimpulan ini merupakan hasil penelitian Prof Robert Burton dari Durham University di Inggris. Dalam penelitiannya tersebut, Prof Burton membandingkan lamanya masa kehamilan dan menyusu pada 128 spesies mamalia atau hewan menyusui dan manusia.

Rusa misalnya, memiliki masa kehamilan selama 7 bulan dan masa menyusui sekitar 6 bulan. Dibandingkan manusia yang hamil selama 9 bulan dan menyusui selama 18-24 bulan, rata-rata ukuran otak rusa 6 kali lebih kecil daripada ukuran otak manusia.

"Salah satu poin pentingnya adalah, temuan ini sesuai dan menguatkan panduan WHO yang menganjurkan ASI ekslusif diberikan sekurang-kurangnya selama 18 bulan hingga 2 tahun," ungkap Prof Burton seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (29/3/2011).

Sebelumnya, penelitian lain yang dilakukan terhadap 14.000 anak usia balita menunjukkan hasil yang kurang lebih sama. Makin lama mendapatkan ASI eksklusif, tingkat kecerdasannya cenderung lebih tinggi terutama dalam hal kemampuan membaca, menulis dan berhitung.

Sementara itu, belum semua orang memiliki kesadaran untuk memberikan ASI ekslusif sesuai anjuran WHO. Di negara maju seperti Inggris saja, 22 persen ibu-ibu tidak pernah menyusui anaknya sama sekali, sementara di Swedia hanya 2 persen yang tidak melakukannya.

Demikian juga di Indonesia, kesadaran untuk memberikan ASI ekslusif juga belum terlalu menggembirakan. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan, hanya 15 persen bayi di seluruh Indoneisa yang beruntung mendapatkan ASI eksklusif.
Baca Ukuran Otak Dipengaruhi Lamanya Masa Kehamilan dan Menyusui Lebih Lengkap >>

Tanda-tanda Otak Bayi Ada yang Tidak Beres


Risiko gangguan mental dan perkembangan otak bayi paling akurat jika dideteksi melalui skrining hormon. Namun secara kasat mata, beberapa perilaku selama proses tumbuh kembang bayi juga bisa dipakai untuk mendeteksi gangguan tersebut.

Dimulai sejak baru lahir, kondisi otak dikatakan relatif normal jika bayi tersebut langsung menangis. Jika tidak menangis, ada kemungkinan bayi tersebut kekurangan suplai oksigen di otaknya akibat berbagai hal yang bisa mempengaruhi perkembangan otak.

Kondisi lain yang perlu diwaspadai adalah kuning memanjang, atau penyakit kuning yang tidak sembuh hingga lebih dari 20 hari. Bayi yang mengalami kondisi seperti ini berisiko mengalami gangguan pada fungsi otak, sehingga membutuhkan intervensi pengobatan.

Bayi lahir prematur dengan berat badan di bawah 2.500 gram juga berisiko mengalami gangguan perkembangan otak. Tiap tahun, kondisi berat badan kurang diperkirakan terjadi pada 550 ribu bayi di Indonesia atau 11,5 persen dari 5 juta angka kelahiran dalam setahun.

"Perkembangan otak pada bayi baru lahir normalnya baru 42 persen, lalu pada usia sekitar 6 tahun sudah akan mencapai 98 persen. Kita menyebut 6 tahun pertama sebagai golden period sehingga harus dioptimalkan," ungkap Ketua Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Indonesia, Dr dr Tb Rachmat Sentika, SpA, MARS usai seminar Skrining Bayi Baru Lahir untuk Mencegah Keterbelakangan Mental di Hotel Twin Plaza, Jl Jend S Parman, Jakarta Pusat, Rabu (25/5/2011).

Dr Rachmat menambahkan, gangguan perkembangan otak pada bayi juga bisa dipengaruhi oleh kondisi hormon terutama tiroid. Kekurangan hormon tiroid memicu Hipotiroid Kongenital, yang jika terlambat mendapat pengobatan bisa mengakibatkan retardasi atau keterbelakangan mental.

Pemeriksaan hormon tiroid hingga saat ini belum diwajibkan oleh pemerintah, namun Dr Rachmat menilai skrining tersebut sangat penting untuk dilakukan. Hipotiroid Kongenital seringkali baru menampakkan gejala ketika sudah terlambat, yakni setelah bayi berusia 3 bulan.

Gejala Hipotiroid yang tidak tertangani antara lain sebagai berikut:
  1. Lidah membesar (makroglosia)
  2. Sakit kuning berkepanjangan (lebih dari 20 hari)
  3. Pusar bodong (hernia umbilical)
  4. Berat badan dan tinggi badan kurang.

Lebih lanjut Dr Rachmat menambahkan, gangguan perkembangan otak yang bukan dipicu oleh Hipotiroid Kongenital bisa juga diamati dari beberapa indikator sebagai berikut.

1. Kemampuan motorik kasar
Normalnya bayi mulai bisa menegakkan leher di usia 3 bulan, duduk usia 6 bulan, berdiri usia 9 bulan dan berjalan usia 1 tahun. Jika bayi mengalami keterlambatan pada perkembagan kemampuan motorik kasar ini, perlu diwaspadai adanya gangguan pada otaknya.

2. Kemampuan motorik halus
Ditandai dengan gerakan memegang-megang bagian ujung pada telapak tangan di usia 3 bulan, perlahan-lahan mulai bisa memegang daerah yang lebih sempit yakni ujung jari. Kemampuan ini bisa dirangsang atau dipacu dengan Alat Permainan Edukatif (APE).

3. Kemampuan melihat
Bayi harus sudah bisa melihat pada usia 4 bulan. Cara memeriksanya dengan "Ci Luk Ba" yakni memberikan rangsang visual untuk mengajaknya bercanda. Jika bayi tidak memberikan respons tertentu misalnya tersenyum atau tertawa, maka kemungkinan ada gangguan pada otak bayi yang menghambat kemampuannya untuk melihat.

4. Kemampuan mendengar
Normalnya sejak usia 6 bulan dalam kandungan, bayi sudah punya kemampuan untuk mendengar. Karena itu saat bayi baru lahir, perlu dilakukan tes Refleks Moro yakni dengan menepukkan tangan di dekat telinga bayi. Jika bayi tidak menunjukkan refleks mengedipkan mata, perlu diwaspadai adanya gangguan pada perkembagan otaknya.
Baca Tanda-tanda Otak Bayi Ada yang Tidak Beres Lebih Lengkap >>

Jarang Kemasukan Sperma, Wanita Berisiko Hamil Preeklampsia


Preeklampsia menduduki peringkat kedua penyebab kematian ibu melahirkan di Indonesia. Dan salah satu faktor risiko terjadinya preeklampsia adalah jarang terpapar sperma.

Preeklampsia atau toksemia adalah penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) pada kehamilan yang disertai adanya protein di urine setelah kehamilan 20 minggu (5 bulan). Preeklampsia yang disertai kejang disebut eklampsia.

"Salah satu faktor risiko terjadinya preeklampsia pada ibu hamil adalah jarangnya terpapar sperma," jelas Dr Med Damar Prasmusinto, SpOG (K), dari Divisi Fetometernal Departemen Obstetri Ginekologi FKUI/RSCM, dalam acara Seminar 4th Emergency Fair and Festival 2010 di Auditorium FKUI, Jakarta, Sabtu (30/10/2010).

Menurut Dr Damar, maksud dari jarang terpapar sperma disini adalah pasangan yang pada awal pernikahan memutuskan untuk kontrasepsi barrier (menggunakan kondom), pertama kali menjadi ayah dan sperma berasal dari orang lain (donor insemnasi).

"Hal ini disebabkan karena faktor imunologi. Jadi ada ketidaksesuain antara gen ibu dan ayah, sehingga ketika si ibu hamil terjadi penolakan gen ayah. Inilah yang menjadi faktor risikonya," jelas Dr Damar lebih lanjut.

Dr Damar menjelaskan, pada saat plasenta masih berada di rahim maka terjadi pembentukan pembuluh darah baru. Pada ibu hamil dengan tekanan darah normal, maka pembuluh darah akan lebar.

Namun, ketika terjadi penolakan gen, maka pembuluh darah baru tersebut akan sempit dan tekanannya menjadi tinggi.

Tekanan yang tinggi ini menyebabkan kerusakan endotel (dinding pembuluh darah), yang akhirnya tidak hanya menyebabkan tekanan darah tinggi di plasenta, tetapi juga pada pembuluh darah di seluruh tubuh yang menyebabkan hipertensi.

Selain jarang terpapar sperma, faktor risiko yang paling sering terjadi adalah sebagai berikut:

1. Kehamilan pertama
2. Pernah terjadi preeklampsia pada kehamilan sebelumnya
3. Kehamilan lebih dari 10 tahun dari kehamilan sebelumnya
4. Usia saat hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun
5. Terlahir dengan pertumbuhan janin terhambat
6. Riwayat preeklampsia di keluarga (khususnya ibu atau saudara perempuan)
7. Indeks massa tubuh diatas 35
8. Sebelum hamil pernah mengalami hipertensi kronis, migrain, diabetes, penyakit
9. ginjal, maupun rheumatoid arthritis.
10. Kehamilan kembar
11. Donasi sel telur
12. Infeksi saluran kemih
13. Kelainan janin


Menurut Dr Damar, tekanan darah tinggi selama kehamilan dapat berdampak bagi ibu dan anak, yaitu:

Pada ibu

1. Jangka pendek menyebabkan sindrom HELLP (adanya hemolisis, peningkatan enzim hepar, disfungsi hepar), edema pulmonium dan eklampsia.
2. Jangka panjang menyebabkan penyakit kardiovaskular, gagal ginjal kronik dan Dibetes Mellitus tipe 2.


Pada bayi

1. Cerebral palsy
2. Dibetes Mellitus tipe 2
3. Penyakit kardiovaskular
4. Obesitas
5. PCO (Polycistic Ovarium)
6. Teratozoospermia (bentuk sperma tidak normal)


Selain faktor imunologi, kehamilan preeklampsia juga disebabkan karena faktor genetik (keturunan) dan pendarahan, sehingga besar kemungkinan kondisi ini menurun di dalam keluarga.

Tapi untuk mencegahnya, ada beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan sebelum dan saat kehamilan, yaitu mengoptimalkan status nutrisi, antara lain:

1. Multivitamin dan mineral, protein dan karbohidrat bervariasi
2. Atasi infeksi seperti sakit gigi, infeksi saluran kemih dan keputihan.
3. Upayakan berat badan ideal
4. Olahraga teratur
Baca Jarang Kemasukan Sperma, Wanita Berisiko Hamil Preeklampsia Lebih Lengkap >>

Darah Ibu Bisa Prediksi Sindrom Down Bayi yang Belum Lahir



Selama ini untuk mendeteksi sindrom Down pada bayi yang belum lahir adalah dengan USG (ultrasonografi) 4 dimensi. Tapi ilmuwan mengatakan bahwa tes darah ibu selama kehamilan lebih akurat dan aman untuk memprediksi sindrom Down pada bayi yang belum lahir.

Sindrom Down adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom dan kelainan genetik.

Sindrom Down mengakibatkan penundaan kognitif yang disebabkan karena bayi memiliki tambahan salinan kromosom 21.

Pada bayi dalam kandungan, sindrom Down selama ini dapat dideteksi dengan tes non-invasif yaitu USG 4D.

Ada pula tes prenatal dengan memasukkan jarum ke dalam rahim untuk sampel cairan ketuban, amniosentesis atau jaringan plasenta untuk chorionic villus sampling atau CVS.

Meski tes-tes invasif ini lebih akurat, tetapi memiliki risiko keguguran berkisar 0,01 persen menjadi 0,5 persen untuk amniocentesis dan 1 persen untuk CVS, menurut panduan 2007 yang diposting pada situs Mount Sinai Hospital.

Tapi sekarang ditawarkan tes darah ibu untuk menemukan perbedaan DNA antara dirinya dan janin, dengan akurasi 80 persen. Dan tidak ada risiko aborsi spontan dengan tes ini.

Menurut sebuah studi kecil yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine edisi Senin (7/3/2011), para ilmuwan di Siprus, Yunani dan Inggris mengatakan bahwa dalam tes darah untuk mendeteksi kebutaan pada bayi, mereka mengidentifikasi adanya risiko janin menderita sindrom Down dalam 14 kasus.

"Kami percaya kita dapat memodifikasi tes ini dan membuatnya lebih mudah dan sederhana," kata Philippos Patsalis, direktur medis dari Cyprus Institute of Neurology and Genetics di Nicosia, seperti dilansir CBC, Selasa (8/3/2011).

Peneliti mengatakan tes yang diberi nama ini Patsalis diharapkan bisa diperkenalkan ke dalam praktik klinis dalam waktu dua tahun ke depan.

Metode Patsalis secara langsung dapat mendeteksi sindrom Down, juga disebut trisomi 21, dengan mengambil sejumlah kecil darah dari ibu antara usia 11 dan 13 minggu kehamilannya. Tes ini bekerja dengan mengukur perbedaan pola DNA antara ibu dan janin.
Baca Darah Ibu Bisa Prediksi Sindrom Down Bayi yang Belum Lahir Lebih Lengkap >>

Kehamilan Kosong

blighted ovum
kehamilan kosong atau Blighted Ovum adalah keadaan dimana seorang wanita merasa hamil tetapi tidak ada bayi di dalam kandungan. pada wanita yang mengalami kehamilan kosong ia juga mengalami tanda-tanda kehamilan seperti mual, muntah, pembesaran payudara, terlambat menstruasi bahkan test pack kehamilan pun menunjukkan tanda positif. Hal ini disebabkan karena plasenta juga menghasilkan hormon kehamilan yaitu human chorionic gonadotropin (HCG).

kehamilan kosong baru bisa diketahui setelah dilakukan adanya pemeriksaan USG Transvaginal yang baru bisa dilakukan setelah 6-7 minggu. kehamilan kosong terjadi karena janin yang sudah terbentuk tidak mampu berkembang sempurna. sehingga kandungan hanya berupa kantong yang berisi cairan. jika bunda dipastikan menderita blighted ovum maka langkah selanjutnya adalah mengeluarkan hasil konsepsi dari rahim (kuretase).

ada beberapa sebab terjadinya kehamilan kosong, yakni adanya kelainan kromosom dalam proses pembuahan sel telur dan sel sperma.infeksi rubella, infeksi TORCH, kelainan imunologi, dan sakit kencing manis/diabetes melitus yang tidak terkontrol serta yang terakhir adalah usia suami istri yang kian tua dan semakin banyak jumlah anak. beberapa tips mencegah Blighted Ovum :
  • jaga kebersihan diri dan lingkungan
  • lakukan imunisasi untuk menghindari masuknya virus rubella
  • pastikan bunda dalam kondisi benar-benar sehat saat merencanakan kehamilan
  • lakukan pemeriksaan kromosom
  • periksa kehamilan secara rutin
  • bagi calon ayah disarankan menghentikan kebiasaan merokok dan hidup sehat saat prakonsepsi.
Baca Kehamilan Kosong Lebih Lengkap >>

Prakonsepsi Sebelum Hamil

pregnant
Anda dan suami berencana memiliki anak. Mulailah melakukan persiapan dari sekarang. Anda perlu memastikan beberapa faktor kehidupan agar segera mendapatkan kehamilan yang sehat.
Pemeriksaan kesehatan penting bagi calon ibu sebelum hamil, di masa prakonsepsi. Lakukan persiapan, 3 – 6 bulan sebelum hamil. Dengan demikian, tubuh calon ibu siap menerima kehadiran janin dan menjalani kehamilan sehat.
Bagi calon ibu, berikut pemeriksaan klinis yang sebaiknya dilakukan:
  • Rongga panggul.
Dokter kebidanan dan kandungan perlu memeriksa kesehatan rongga panggul. Pemeriksaan ini akan mendeteksi, apakah ada masalah pada organ reproduksi calon ibu. Selain kista, keluhan calon ibu adalah mioma atau miom, yakni sejenis tumor yang biasanya tumbuh di dinding rahim. Miom memang tidak bersifat ganas, tapi benjolannya kadang-kadang menekan jaringan sekitarnya, seperti usus dan kandung kemih. Sehingga, calon ibu merasakan nyeri dan pendarahan hebat saat haid. Jika kemudian ibu hamil dengan miom dalam rahimnya, maka yang nyeri panggul akan dialaminya.
  • Berat Badan
Berat Badan calon ibu bisa berpengaruh terhadap kesuburan. berat badan yang berlebihan bisa mengakibatkan terjadi ketidakseimbangan hormon yang menyebabkan tingkat kesuburan menurun. Jika pun terjadi pembuahan saat berat badan berlebih, risiko calon ibu untuk menderita diabetes cukup besar. Bahkan, calon ibu berisiko terserang pre-eklampsia (gejala keracunan kehamilan). Si janin juga menanggung risiko ini.
Sebaliknya, jika calon ibu terlalu kurus, kesuburan akan terpengaruh. Calon ibu bisa mengalami gangguan keseimbangan hormon. Calon ibu yang terlalu kurus menyebabkan ketidakteraturan haid. Agar proses ovulasi terjadi, tubuh calon ibu biasanya membutuhkan hormon estrogen. Agar hormon ini diproduksi, berat badan tubuh akan bertambah sekitar 25% dari bobot normal. Itulah kenapa jika bobot tubuh kurang dari normal, maka tubuh juga susah payah dalam memproduksi hormon estrogen dengan baik. Ujungnya, ovulasi (pengeluaran sel telur dari indung telur) gagal berlangsung dengan baik.
  • Pap smear.
Dokter melakukan pemeriksaan ini untuk mendeteksi ada tidaknya kanker atau gangguan lain di leher rahim. Pap smear biasanya dilakukan tiga tahun setelah melakukan hubungan seks pertama kali. Jika ditemukan kelainan, maka harus disembuhkan sebelum Anda hamil.
Baca Prakonsepsi Sebelum Hamil Lebih Lengkap >>

Hamil Dibawah Usia 20 atau Diatas 35 Sama-sama Riskan!


Idealnya, kehamilan berlangsung saat ibu berusia 20 sampai 35 tahun. Kenyataannya, sebagian perempuan hamil berusia di bawah 20 dan tidak sedikit pula yang mengandung di atas 35 tahun. Padahal, kehamilan yang terjadi di bawah usia 20 ataupun di atas 35 tahun termasuk berisiko karena dibayang-bayangi beragam faktor gangguan, demikian menurut dr Anita Arju, SpOG, dari Jakarta Medical Centre, Jakarta Selatan.

Beberapa risiko yang dihadapi wanita hamil di atas 35 tahun, yaitu janin mengalami kelainan genetik dan lahir cacat, selain berpeluang mengalami keguguran. Kemungkinan lain terjadinya komplikasi saat kehamilan, seperti tekanan darah tinggi, diabetes saat hamil, kesulitan melahirkan, atau janin memiliki kelainan kromosom.

Biasanya, kelainan kromosom trisomik mengakibatkan lahirnya anak-anak down syndrome yang mengalami kombinasi retardasi mental dan cacat fisik. Janin dengan kromosom abnormal banyak pula yang berakhir dengan keguguran.

Sementara kehamilan usia dini (kurang dari 20 tahun) memuat risiko yang tidak kalah berat, terkait emosional ibu yang belum stabil sehingga si ibu mudah tegang. Sedangkan cacat kelahiran bisa muncul akibat ketegangan saat dalam kandungan karena adanya rasa penolakan secara emosional ketika si ibu mengandung bayinya.

Agar kehamilan berjalan lancar dan bayi yang dikandung juga sehat secara fisik dan mental, sebaiknya sebelum hamil calon ibu yang berusia di atas 35 memeriksakan kesehatan guna memastikan ada tidaknya kelainan genetik yang bakal terjadi pada janin. Pemeriksaan yang dilakukan dapat berupa pemeriksaan darah, ultrasound atau chorionic villus sampling (testing jaringan sekitar fetus), dan amniocentesis (mengambil sampel dari cairan amniotic).

Selama hamil sebaiknya Anda juga menjalani prenatal care, terutama bila Anda memiliki kondisi penyakit kronis, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, atau tengah menjalani masa pengobatan panjang yang dapat berisiko terhadap janin.
Baca Hamil Dibawah Usia 20 atau Diatas 35 Sama-sama Riskan! Lebih Lengkap >>

Megatasi Jerawat Saat Hamil


Kata orang saat hamil setiap wanita akan terlihat bersinar, berseri-seri, dan yang pasti tambah cantik. Apa jadinya jika wajah Anda justru terlihat kusam dan berjerawat
Nadia sudah lama tak pernah mengalami masalah dengan jerawat. Padahal sewaktu ia ABG alias anak baru gede, wajah putihnyanya kerap dihinggapi jerawat. Setelah sekian lama mimpi buruk itu pergi dari hidupnya, kok disaat hamil anak pertama ini, presenter radio swasta di Jakarta ini kembali berhadapan dengan masalah jerawat. Bukankah orang bilang saat hamil wajah wanita akan terlihat bersinar?
Ternyata pendapat tersebut tidak seutuhnya benar. Dalam situs your-best-acne-treatment.com pun disebutkan bahwa setiap wanita hamil berbeda. Sebagian, yang sebelumnya memang langganan bermasalah dengan jerawat, saat hamil jerawatnya semakin memburuk, tapi sebagian lainnya justru mengalami kulit  berseri yang sehat. Terkait hal tersebut tidak dapat diprediksikan, siapa yang akan memiliki wajah berseri kala hamil, dan siapa yang akan berjerawat.

JERAWAT? JANGAN PANIK!

Apakah Anda tengah bermasalah dengan jerawat? Jangan panik. Anda tidak sendiri. Menurut Arlene Eisenberg, Heidi E. Murkoff, Sandee E. Hathaway, B.S.N, penulis puluhan buku kesehatan  menyebutkan bahwa hal tersebut bisa saja terjadi diakibatkan perubahan hormonal. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, kulit bisa jadi lebih sensitif. Pendapat tersebut, seperti pula diamini oleh  Dr. Judi Januadi Endjun, dokter spesialis obstetri dan ginekologi RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Setiap wanita hamil mengalami perubahan hormonal dan fisik, termasuk kulit wajah. Perubahan tersebut antara lain menyebabkan kulit lebih sensitif sehingga bila terjadi iritasi sedikit bisa menimbulkan kerusakan pada kulit tersebut tuturnya.

PENGARUH HORMONAL

Memperkuat pendapat Dr. Judi, menurut dr. Vinia Ardiani Permata, Sp.KK, dokter spesialis kulit dan kelamin Brawijaya Women and Children Hospital Jakarta, masalah jerawat dalam kehamilan memang dapat saja disebabkan pengaruh hormonal. Jerawat normal terjadi pada wanita hamil.  Kehamilan dapat memicu timbulnya jerawat atau memperparah jerawat yang sebelumnya sudah ada. Di sisi lain sebagian wanita dengan kulit yang cenderung berjerawat melaporkan jerawatnya tidak kambuh selama menjalani masa kehamilan, katanya.
Dua faktor utama berperan pada timbulnya jerawat saat kehamilan adalah hormon androgen dan perubahan hidrasi (kandungan cairan di dalam tubuh). Peningkatan hormon androgen, yaitu progesteron selama kehamilan menyebabkan kelenjar sebasea di kulit menjadi lebih besar sehingga produksi kelenjar tersebut (materi berminyak=sebum) meningkat. Sebum yang berlebihan ini bercampur dengan sel kulit mati yang terkelupas di saluran folikel rambut dan menyebabkan sumbatan di pori kulit. Lingkungan seperti ini menyebabkan bakteri penyebab jerawat bermultiplikasi (berkembang biak) dengan cepat. Semua ini selanjutnya mengakibatkan terjadinya peradangan di kulit sehingga timbul jerawat,terangnya. Selain itu, kandungan air di kulit, lanjutnya,  dapat membantu keluarnya sebum melalui pori kulit. Selama kehamilan, hidrasi tubuh berkurang. Hal ini menyebabkan sebum semakin kental dan semakin sulit dikeluarkan melalui pori kulit. Jerawat selama kehamilan dapat ringan, sedang maupun berat, dan dapat terjadi kapanpun selama masa kehamilan. Selain di wajah, jerawat juga timbul di badan, paparnya.

KONSUMSI VITAMIN B6

Ada pendapat bahwa untuk membantu mengatasi masalah jerawat seorang wanita hamil dapat mengkonsumsi vitamin B6, benarkah demikian? Menurut dr. Vinia,  Vitamin B6 (Piridoxine) memang berperan penting pada sistem imun tubuh dan produksi antibodi. Selain itu, Piridoxine memiliki peran penting pada metabolisme gula, asam lemak dan protein. Defisiensi vitamin B6 dapat menghambat proses penyembuhan jerawat dan menyebabkan timbulnya jerawat,ucapnya. Namun, perhatikanlah dosisnya. Dosis yang disarankan untuk mengatasi jerawat adalah sebanyak 50-100 mg, 3 x sehari, tuturnya. Konsumsi vitamin B6 yang berlebih (2-6 gram secara akut, dan 500 mg secara kronik) dapat mengebabkan  neuropati sensoris (baal atau hilang rasa) pada ekstremitas yang bersifat menetap atau hanya sementara.
Perlu dipahami pula, untuk memperoleh vitamin B6 Anda tidak perlu mengkonsusi vitamin khusus, pasalnya vitamin ini dapat dengan mudah diperoleh dari ragam makanan alami. Vitamin B6 dapat dijumpai pada kuning telur, ikan, daging, biki-bijian (jagung, gandum, beras, kacang), susu, unggas (ayam, itik), dan pisang, ujar dr. Vania.Â
Tak hanya jerawat, sebagian wanita juga mengalami masalah flek pada kulit. Kadang-kadang ada ibu hamil yang mengeluhkan timbulnya flek berwarna coklat dengan ukuran yang bervariasi muncul di wajah dan leher. Ini disebut kloasma atau topeng kehamilan, tutur Dr. Miriam Stoppard seorang dokter kandungan dan penulis sejumlah buku kehamilan. PG

KIAT MENJAGA KESEHATAN KULIT SELAMA KEHAMILAN

Wanita adalah makhluk yang selalu ingin cantik. Jadi, kehamilan bukan halangan bagi Anda untuk tampil menawan. Nah inilah kiat memiliki kulit sehat berseri selama kehamilan dari seorang dermatologist, dr. Vinia Ardiani Permata, Sp.KK, dari  Brawijaya Women and Children Hospital Jakarta.

Beberapa tips untuk meminimalkan jerawat selama kehamilan :
  • Wanita hamil harus membersihkan kulit untuk mempertahankan kondisi bebas minyak. Bersihkan wajah 2-3x sehari dengan menggunakan pembersih wajah yang lembut dan tidak mengandung minyak (oil-free mild cleanser). Basuh wajah dengan air hangat (lukewarm water), keringkan wajah dengan lembut, kemudian gunakan pelembab wajah yang bebas minyak (oil-free moisturizer).
  • Keringkan wajah dengan cara menepuk-nepuk, jangan mengeringkan dengan cara menggosok.
  • Saat membersihkan wajah, dapat menggunakan oil absorbing micro-fiber cloth untuk menyerap minyak dari wajah.
  • Jauhkan tangan dari jerawat atau hindari menyentuh jerawat. Bersihkan wajah dengan lembut untuk mencegah penyebaran bakteri penyebab jerawat ke bagian tubuh lain.
  • Olah raga secara teratur dapat meningkatkan sirkulasi aliran darah ke seluruh tubuh termasuk kulit sehingga dapat membantu kesehatan kulit.
  • Hindari mengeluarkan isi jerawat (memencet, menggaruk) yang dapat menyebabkan terjadinya skar akne (jaringan parut akibat jerawat).
  • Gunakan kosmetik yang berbahan dasar air, hindari kosmetik berbahan dasar minyak atau gunakan kosmetik yang bertuliskan noncomedogenicatau nonacnegenic. Jangan lupa untuk membersihkan make-up wajah sebelum tidur.
  • Mengkonsumsi buah segar dan sayuran.
  • Minum sekurang-kurangnya 6-8 gelas air sehari untuk mempertahankan hidrasi (kandungan air) tubuh dan kulit.
  • Jangan membersihkan wajah secara berlebihan, hal ini akan memicu produksi minyak.
  • Sebaiknya menggunakan sponge atau kapas sekali pakai saat mengunakan toner atau make-up.
Hal-hal yang sebaiknya dilakukan untuk menjaga agar kulit tetap sehat, tidak  kusam dan tidak memiliki flek :
Gaya Hidup Sehat
  • Diet / pola makan yang teratur termasuk pemilihan menu / jenis makananÂ
  • Olah raga
  • Pemeriksaan kesehatan teratur
  • Istirahat yang cukup dan teratur
  • Tidak mengkonsumsi minuman keras, obat-obatan dan rokok
Kebersihan Kulit
  • Bersihkan kulit minimal 2-3 kali / hari: Mandi, cuci muka
  • Bersihkan make up yang digunakan
  • Gunakan air dingin / hangat untuk membasuh wajah
  • Gunakan sabun khusus untuk wajah
  • Hindari bahan-bahan yang mengiritasi kulit
Kelembaban Kulit
  • Gunakan pelembab wajah untuk mencegah terjadinya kehilangan air
  • Kegunaan pelembab : melembutkan dan menghaluskan wajah
  • Pilihlah moisturizer / pelembab yang sesuai dengan jenis kulit
Proteksi Kulit
  • Gunakan tabir surya setiap hari
  • Pilihlah tabir surya dengan daya proteksi yang lebar (SPF)
  • Sebaiknya hindari paparan sinar matahari langsung dari jam 8 pagi 4 sore
  • Gunakan tabir surya minimal 30 menit sebelum beraktivitas di luar ruangan
  • Ulangi pemakaian tabir surya 3-4 jam sekali untuk mendapatkan proteksi yang optimal dari tabir surya
Jika wajah sudah terlanjur kusam dan terdapat flek, disarankan  konsultasi kepada dokter spesialis kulit untuk menentukan tatalaksana yang tepat dan aman untuk  wanita hamil.
Baca Megatasi Jerawat Saat Hamil Lebih Lengkap >>